Presiden Jokowi Hadiri Konferensi Anak Muda di Balai Kartini

Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalam acara bertajuk ‘Young On Top National Conference (YOTNC)’, yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (25/8/2018).

Presiden Jokowi membuka secara resmi acara ini. Turut hadir mendampingi Jokowi, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM, Thomas Lembong, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf.

Kehadiran Jokowi menyita perhatian dan antusiasme peserta YOTNC. Hal ini tampak dari sambutan meriah para peserta ketika Mantan Walikota Solo hadir di tempat acara.

“Telah hadir Bapak Presiden Joko Widodo,” ungkap pemandu acara yang langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

Presiden Jokowi yang tampil mengenakan baju putih tersebut juga larut dalam antusiasme peserta. Beberapa kali Presiden Jokowi tampak berhenti sejenak untuk melayani permintaan peserta yang ingin berswafoto dengannya.

Untuk diketahui YOTCN merupakan kegiatan tahunan berskala nasional yang diadakan oleh PT Young On Top Inspirasi Nusantara. Ajang ini, merupakan wadah berbagi pengalaman antara praktisi bisnis dengan para calon pebisnis, khususnya generasi muda.

Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan masukan bagi generasi muda dalam meniti masa depannya. Sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia saat ini turut menjadi perhatian generasi muda dengan rentang usia 17 tahun-29 tahun, atau lebih dikenal dengan kaum milenial.

Berdasarkan survei yang digelar The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) terhadap 600 orang milenial dari 34 provinsi, sebanyak 47,8 persen menyatakan kondisi ekonomi nasional saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya.

Dari survei tersebut, sebanyak 17 persen kaum milenial menyebut kondisi ekonomi saat ini lebih buruk. Sedangkan 33,8 persen menilai tidak ada perubahan terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Pengamat Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri mengatakan, optimisme kaum milenial terhadap kondisi ekonomi ini bukan disebabkan faktor kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah selama ini.

Menurut dia, hal tersebut lebih karena kaum milenial percaya akan kemampuan diri sendiri guna meningkatkan kondisi ekonominya.

“Optimis terhadap kondisi ekonomi, mungkin karena mereka mampu. Bukan karena kebijakan pemerintah tetap lebih kepada kemampuan diri sendiri, bahwa saya mampu bekerja, mampu mempunyai ekonomi yang lebih baik. Jadi lebih bersifat individual,” ujar dia di kantor CSIS, Jakarta.

Selain itu, survei juga menyatakan 72,7 persen kaum milenial menganggap kondisi pembangunan nasional saat ini lebih baik dibandingkan dengan 5 tahun lalu. Sedangkan yang 6,2 persen menyatakan kondisi pembangunan lebih buruk dan 16 persen menyatakan tidak ada perubahan.

Sementara dalam hal kondisi ekonomi keluarga saat ini, 47,8 persen kaum milenial menyatakan lebih baik dibandingkan 5 tahun lalu. Hanya 15,2 persen yang menyatakan lebih buruk dan 37 persen menyatakan tidak ada perubahan.

“Mungkin ini terjadi karena kebanyakan dari mereka masih kuliah atau masih tergantung dari keluarga, dan keluarganya mendapatkan perekonomian yang lebih baik, sehingga tidak terlalu terasa masalah-masalah ekonomi bagi mereka,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *